PANDANGAN ILMU SOSIAL TENTANG PSK

1.1 LATAR BELAKANG MASALAH

Persepsi umum, pelacur adalah perempuan yang menjual kehormatan diri atau tubuhnya demi uang. Pandangan masyarakat umum bahwa pelacur dianggap sebagai manusia kotor dan najis, mereka dianggap tidak lagi memiliki kehormatan diri sebagai manusia. Secara etimologi, lacur diartikan juga sebagai perbuatan tidak baik, sehingga pelacur berarti orang yang melakukan perbuatan tidak baik. Dengan pengertian ini, setiap orang yang berbuat tidak baik kiranya pantas disebut pelacur, tak terkecuali siapapun. Namun nyatanya, hanya PSK yang diidentikkan sebagai pelacur, dengan panggilan lonte, perek, gongli dll, padahal mereka itu terpaksa menjual tubuhnya, hanya untuk menghidupi diri dan keluarganya, karena sudah patah arang untuk mencari nafkah dengan cara lain.

Perbuatan menjual diri ini seakan dianggap paling buruk dan hina dibandingkan dengan perbuatan tidak baik lainnya seperti korupsi, kolusi, manipulasi, nepotisme dan lain-lain yang mengeksploitasi ambisi. Sedangkan koruptor, kolutor, manipulator justru sengaja melakukan perbuatan tersebut, bahkan merasa bangga dengan perilaku kotornya itu. Mengacu pada pemahaman ini, bukankah sebutan pelacur terasa sungguh tidak adil jika hanya ditujukan pada para perempuan (PSK) yang menjual tubuhnya demi uang itu. Sedangkan para koruptor cs melakukannya tidak hanya demi uang, tetapi juga jabatan, kedudukan dan kekuasaan, suatu perbuatan yang dimotivasi bukan karena keterpaksaan melainkan karena keserakahan, dengan menjual kebenaran, kejujuran dan keadilan yang merupakan nilai-nilai dasar dari kehormatan manusia itu sendiri.

Ketika kita melihat realitas sosial yang lebih luas lagi, para penegak hukum hanya  gencar menertibkan para pelacur (PSK) saja, sedangkan orang-orang yang mengeksploitasi nafsu ambisi dan keserakahan, terutama para oknum pejabat tinggi pemerintahan, seringkali tidak tersentuh. Padahal, berdasarkan pemahaman di atas, mereka juga adalah para pelacur. Yang jelas, hal ini terjadi mungkin para penegak hukum itu pun memang sudah menjadi para pelacur seperti mereka, sehingga negara ini kemudian mengalami krisis ekonomi dan kepercayaan, namun para pelacur itu nampaknya banyak yang tidak menyadari, bahwa sikap dan perilaku kotor mereka pun sama-sama melacurkan diri.

Disisi lain, kalau berbicara, umumnya para pelacur tersebut berbicara layaknya orang-orang suci dan terhormat, bicara tentang kebenaran, kejujuran dan keadilan, mereka seperti tidak memiliki rasa malu dengan menyebut para perempuan pelacur (PSK) sebagai sampah masyarakat yang hina dina dan kotor yang harus dibersihkan. Padahal mereka juga sama kotornya dalam pandangan moral sehingga layak disebut sampah masyarakat-negara yang harus segera dienyahkan. Ketika para perempuan pelacur (PSK) tadi seringkali terlihat tertawa-tawa, sesungguhnya didalam hatinya merasa pilu, sedih dan teriris dengan hidup yang dialaminya. Sedangkan tertawanya para koruptor, kolutor, manipulator, didasari rasa senang dan kepuasan hati meskipun berada di atas penderitaan dan ketidakpuasan orang lain.

Kalaupun para perempuan pelacur harus ditertibkan, justru semestinya para pelacur yang berada dibalik kedudukan dan terpandangnya status sosial yang harus lebih dahulu ditertibkan. Namun akhirnya, para perempuan pelacur itu pun harus puas dengan ketidakpuasannya, karena masyarakat pada umumnya sudah terlanjur menganggap mereka sebagai manusia hina dina, kotor, dan menjijikan. Perbuatan mereka seakan dianggap lebih buruk dari perbuatan menjual kebenaran, kejujuran dan keadilan yang dilakukan para oknum pejabat atau penegak hukumnya. Berdasarkan pengertian filosofis dari makna pelacur tadi, pelacur tetap pelacur, apapun jenis dan tingkatannya, sama hinanya dalam pandangan nilai-nilai luhur kehormatan diri. Dari itu, semoga kita senantiasa instrospeksi dan berhati-hati agar sikap dan perilaku kita tidak menjurus pada tindakan melacurkan diri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s