PANDANGAN FEMINISME

Pandangan-pandangan tentang feminism:

  1. Pendapat dari kebanyakan masyarakat jawa yaitu sebagai berikut, dapat di gambarkan bahwa sosok wanita itu seperti lima jari. (1) jempol, istri harus pol mengabdi kepada suami, (2) telunjuk, istri harus menaati perintah suami. (3) jari tengah, istri harus bangga akan suaminya, bagaimanapun keadaanya. (4) jari manis, istri selalu bersikap manis dengan suami. (5) kelingking, istri selalu berhati-hati, teliti, rajin, dan terampil dalam melayani suami dan anak-anak-anaknya.
  2. masyarakat Batak (Toba) menganut sistem kekerabatan patrilinial, artinya garis keturunan dalam keluarga ditentukan menurut garis bapak (laki-laki). Sistem garis keturunan tersebut menempatkan laki-laki lebih utama dibandingkan perempuan. Pengutamaan laki-laki dibanding perempuan membawa banyak konsekuensi bagi laki-laki maupun perempuan, misalnya, bila laki-laki adalah ahli waris, maka perempuan bukan ahli waris walaupun perempuan memperoleh bagian dari harta warisan orangtuanya. Kekristenan Barat yang dibawa penginjil Jermar~ (RMG) ke tanah Batak juga kekristenan yang patriarki. Perjalanan panjang Gereja HKBP sebagai gereja telah menempatkan perempuan pada posisi dan peran pinggiran raja. Pandangan gereja (tradisional) telah menempatkan perempuan sebagai pendamping bagi laki-laki. Tetapi ketika diterapkan dalam realitas sosial sehari-hari terjadi perbedaan dalam menafsirkan anti “pendamping yang sepadan”. Perbedaan tafsiran tersebut berdarnpak luas dan memasuki setiap segmen kehidupan relasi antara perempuan dan laki-laki. Akibat yang terlihat adalah tersubordinasinya perempuan bila dibandingkan dengan laki-laki. Kenyataan seperti itu telah mendarong para pemikir dan teolog Kristen untuk mencari jawaban terhadap tersubordinasinya perempuan dalam gereja. Ternyata gerakan tersebut telah melahirkan teologi feminis. Teologi feminis berangkat dari asumsi bahwa pengalaman perempuan juga sah dalam menafsirkan kepercayaan dan iman yang diyakininya. Oleh karena itu, teologi feminis menawarkan suatu cara baru dalam berteologi. Pengakuan terhadap adanya perbedaan antara pengalaman perempuan dan laki-laki meng haruskan adanya mediate penelitian yang berbeda dengan apa yang biasanya dipakai. Oleh karena itu, dalam hal ini telah dipakai metode penelitian kualitatif dengan perspektif wanita. Dengan metode penelitian ini diharapkan pemahaman terhadap perempuan yang menjadi subyek penelitian dapat didengar dan pengalaman, pandangan serta harapanharapan mereka akan terungkap lebih jelas. Penelusuran kedudukan dan peran perempuan Batak (Toba) Kristen anggota Gereja HKBP memberikan gambaran bahwa kedudukan dan perannya dipengaruhi aleh sistem nilai (ideologi) dan stereotip jender yang berlaku di masyarakat Batak (Toba). Ideologi (sistem nilai) dan stereotip jender yang berlaku terbentuk sebagai hasil tarik-menarik dari kekuatan sosial budaya pada masyarakat Batak (Toba). Bahwa tata aturan rumah tangga Batak (Toba) yang patriarkat mempunyai implikasi sosial, politik, hukum, dan religius. 
    Perlu upaya yang serius dan berkesinambungan untuk melakukan perubahanperubahan yang mendasar dalam menciptakan kemitrasejajaran antara perempuan dan laki-laki dalam Gereja HKBP. 
    1. Sebuah film menarik berjudul ” Monalisa Smile ” karya sutradara Mike Newell mengangkat tema tersebut dengan sudut pandang yang berbeda. Dalam film tersebut tokoh dosen bernama Katherine Watson yang diperankan dengan luar biasa oleh Julia Robert mengajar di sebuah universitas khusus wanita yang paling konservatif di Amerika saat itu. Adalah wanita mandiri yang berpikiran maju dan ingin mengubah keadaan konservatif tersebut. Berlatar sekitar tahun 1953, di Amerika ketika wanita pada saat itu masih terisolasi dalam pola pikir tradisional yang membatasi gerakan wanita untuk dapat terus maju dan berkembang dalam hal ini menuntut ilmu lebih tinggi. Pada saat itu wanita atau murid-muridnya dilegalkan atau lebih baik jika setelah lulus mereka harus menikah, berkeluarga dan mengurus anak-anak. Itu yang mereka sebut kodrat. Katherine Watson tidak begitu setuju dengan keadaan itu dan dalam setiap pertemuan mengajar sedikit demi sedikit ia sisipkan rasa pertentangan terhadap sistem tersebut. Seorang muridnya yang sangat cerdas yang ingin (sebenarnya ia hanya berandai-andai) masuk sekolah hukum di Yale. Dengan bantuan dosen itu ia diterima. Tapi di saat terakhir ia melepaskan kursi yang ia dapat di Yale dan memutuskan untuk menikah dengan pacarnya. Itu pilihannya. Sang murid yang bernama Jane berkata ” Dengan menjadi Ibu Rumah Tangga itu tidak akan mengurangi kepintaran dan kecerdasan kita bukan. Ini pilihan Saya” .Saya sendiri sangat setuju dengan Jane. Hidup itu pilihan. Dan bukan karena kita para wanita ingin sejajar dengan laki-laki lalu menganggap pilihan tradisional yang seakan membatasi gerak kita sebagai wanita itu lantas menjadi salah. Feminis adalah gagasan kesetaraan gender. Tapi seharusnya bukan kebebasan dalam arti yang ekstrim sehingga keluar dari tata krama sosial masyarakat. Maksudnya adalah menjadi Ibu Rumah Tangga, hidup berkeluarga atau sebaliknya menjadi wanita karier dan bekerja melakukan dua hal bersamaan adalah sebuah pilihan hidup bagi para wanita itu sendiri. Salah jika kita mengartikan feminis sebagai kekuatan untuk merdeka dan pembebasan moral wanita.Tulisan ini ditulis berdasarkan hasil pengamatan yang saya  yakin tidak terlalu objektif pada para wanita yang menuntut kesetaraan gender dan bersikap radikal. Karena selama ini masyarakat khususnya para wanita selalu menganggap feminisme atau seorang feminis harus mandiri dalam arti bebas-sebebasnya dan melepaskan diri dari kaum pria. Dalam arti sempit mereka melegalkan lesbian (hubungan sesama wanita) dan menggangap pria tak perlu ada. Atau dalam hal seni mereka mengekspresikan feminisme sebagai suatu gerakan melawan eksploitasi seks wanita, tapi malah cenderung mengungkapkan pengeksploitasian tersebut yang seakan malah terlihat betapa rendahnya martabat wanita. Ini hanya opini saya sebagai seorang wanita yang ingin menyeimbangkan kehidupan sebagai seorang wanita dalam konteks progesif tradisional yang artinya menerima dengan terbuka hal-hal baru dan tetap mempertahankan keindahan nilai tradisional dalam diri dan masyarakat.

DAFTAR PUSTAKA

 

http://jurnal.dikti.go.id/jurnal/detil/id/0:827/q/pengarang:%20Mary%20/offset/0/limit/13. di kutip tanggal 15 desember 2011.

http://yuliarso.multiply.com/journal/item/401/pesona_di balik_kelembuatan_wanita_jawa. di kutip tanggal 15 desember 2011.

http://sosbud.kompasiana.com/2011/05/24/feminisme-dan-pilihan-hidup-wanita/. Di kutip tanggal 15 desember 2011.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s