berpikirlah

       Manusia di desain sedemikian rupa oleh Tuhan yang maha esa dalam bentuk yang sebaik-baiknya. mulai dari kepala, tangan, badan, hingga kaki. pada bagian kepala terdapat sebongkah otak yang di lindungan oleh tulang keras. sehingga kokoh di dalamnya. otak di sinyalir manusia sebagai inti dari kehidupannya. merespon, tanggap, dll. seperti halnya memori hp otak dapat menyimpan semua yang di lihat oleh mata. di sisipkan dalam bagian pengingat.

pikiran di gunakan manusia sebagai alat untuk dapat melangsungkan kehidupan. kita contohkan seorang menejer, para buruh, petani, desainer dll. mereka menggunakan pikiran dalam proses bekerja. walaupun tidak bisa terlepas dari kerja tubuh atau otot. pikiran adalah modal hidup manusia, tanpa pikiran manusia adalah binatang yang bergerak menggunakan insting lapar dan haus dalam mecari makan.

ayam menggunakan paruh dan cakarnya dalam mencari makan. dari mulai ayam ada sampai sekarang mereka tetap saja menggunakan itu sebagai modal hidup. karena itu dalam istilah sosiologi/antropologi manusia itu sebagai makhluk yang memiliki kebudayaan dan peradaban. selalu berkembang, selalu mencipta dan selalu berusaha untuk memudahkan diri dalam mencari sumber kehidupan.

manusia mampu menciptakan teknologi, membuat, mencipta, segala di upayakan dengan ide pemikiran, penelitian, dll. lemari es, ac, kipas angin, obat-obatan dll. oleh karena itu dalam ilmu lingkungan manusia di kenal sebagai makhluk pembaharu dan perusak lingkungan. karena mereka mengusahakan agar sesuatu itu dapat di rubah menjadi nilai jual dan nilai yang menguntungkan bagi manusia sendiri.

kehebatan pikiran manusia tidak lagi di ragukan. oleh karena itu jika kita menggunakan pikiran kita semaksimal mungkin insa’allah kita akan mampu mendapatkan hidup yang di tawarkan oleh dunia ini. jadi selalu gunakan pikiran kita dalam bertindak,

sekali lagi, pikiran adalah ciptaan yang tiada terkira mahalnya.

MANUSIA TIDAK ADA YANG BODOH

manusia adalah makhluk yang di ciptakan begitu sempurna, berbeda dengan makhluk lainnya seperti hewan dan tumbuh-tumbuhan.  yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya adalah fikiran.

bagaimana hakekat manusia sebagai makhluk yang sempurna?

sejak di lahirkan manusia sama dengan kertas putih yang masih bersih yang tidak ada coretan tinta barang sedikitpun artinya tidak memiliki pengetahuan apa-apa tentang dirinya dan kehidupan ini. Dengan bahasa ibu dan sentuhan ayahnya dia hidup, melalui kasih sayang dan perhatian kedua orang tuanya lah dia mulai memiliki coretan-coretan kecil. dalam hal ini proses sosialisasi pertama terjadi pendidikan dalam keluarga. bagaimana si anak berdiri? bagaimana si anak dapat berjalan? bagaimana dia makan sendiri? bagaimana dia mandi dan memakai pakainya sendiri? jika pendidikan keluarga berlangsung baik akan memberi sumbangan perkembangan motorik anak untuk kehidupan nya nantinya. dia terus tumbuh seiring dengan perkembangan waktu dan proses sosialisasi berlanjut ke tingkat ke dua yaitu teman sepermainan nya. dalam hal ini mereka saling memberi respon selaku sesamanya, terkadang mengambil peran-peran orang dewasa yang meraka anggap sebagai panutan nya. namun mereka tidak mengerti makna peranan yang sesungguhnya. sosialisasi ke tiga adalahyang pendidikan formal. dimana pendidikan formal ini memberi pendidikan terspesialiasi tentang kehidupan dan di gunakan untuk bertahan hidup nantinya,  proses pembelajan lebih lanjudnya adalah hal yang akan terus terjadi sampai mereka tidak wafat.

PANDANGAN ILMU SOSIAL TENTANG PSK

1.1 LATAR BELAKANG MASALAH

Persepsi umum, pelacur adalah perempuan yang menjual kehormatan diri atau tubuhnya demi uang. Pandangan masyarakat umum bahwa pelacur dianggap sebagai manusia kotor dan najis, mereka dianggap tidak lagi memiliki kehormatan diri sebagai manusia. Secara etimologi, lacur diartikan juga sebagai perbuatan tidak baik, sehingga pelacur berarti orang yang melakukan perbuatan tidak baik. Dengan pengertian ini, setiap orang yang berbuat tidak baik kiranya pantas disebut pelacur, tak terkecuali siapapun. Namun nyatanya, hanya PSK yang diidentikkan sebagai pelacur, dengan panggilan lonte, perek, gongli dll, padahal mereka itu terpaksa menjual tubuhnya, hanya untuk menghidupi diri dan keluarganya, karena sudah patah arang untuk mencari nafkah dengan cara lain.

Perbuatan menjual diri ini seakan dianggap paling buruk dan hina dibandingkan dengan perbuatan tidak baik lainnya seperti korupsi, kolusi, manipulasi, nepotisme dan lain-lain yang mengeksploitasi ambisi. Sedangkan koruptor, kolutor, manipulator justru sengaja melakukan perbuatan tersebut, bahkan merasa bangga dengan perilaku kotornya itu. Mengacu pada pemahaman ini, bukankah sebutan pelacur terasa sungguh tidak adil jika hanya ditujukan pada para perempuan (PSK) yang menjual tubuhnya demi uang itu. Sedangkan para koruptor cs melakukannya tidak hanya demi uang, tetapi juga jabatan, kedudukan dan kekuasaan, suatu perbuatan yang dimotivasi bukan karena keterpaksaan melainkan karena keserakahan, dengan menjual kebenaran, kejujuran dan keadilan yang merupakan nilai-nilai dasar dari kehormatan manusia itu sendiri.

Ketika kita melihat realitas sosial yang lebih luas lagi, para penegak hukum hanya  gencar menertibkan para pelacur (PSK) saja, sedangkan orang-orang yang mengeksploitasi nafsu ambisi dan keserakahan, terutama para oknum pejabat tinggi pemerintahan, seringkali tidak tersentuh. Padahal, berdasarkan pemahaman di atas, mereka juga adalah para pelacur. Yang jelas, hal ini terjadi mungkin para penegak hukum itu pun memang sudah menjadi para pelacur seperti mereka, sehingga negara ini kemudian mengalami krisis ekonomi dan kepercayaan, namun para pelacur itu nampaknya banyak yang tidak menyadari, bahwa sikap dan perilaku kotor mereka pun sama-sama melacurkan diri.

Disisi lain, kalau berbicara, umumnya para pelacur tersebut berbicara layaknya orang-orang suci dan terhormat, bicara tentang kebenaran, kejujuran dan keadilan, mereka seperti tidak memiliki rasa malu dengan menyebut para perempuan pelacur (PSK) sebagai sampah masyarakat yang hina dina dan kotor yang harus dibersihkan. Padahal mereka juga sama kotornya dalam pandangan moral sehingga layak disebut sampah masyarakat-negara yang harus segera dienyahkan. Ketika para perempuan pelacur (PSK) tadi seringkali terlihat tertawa-tawa, sesungguhnya didalam hatinya merasa pilu, sedih dan teriris dengan hidup yang dialaminya. Sedangkan tertawanya para koruptor, kolutor, manipulator, didasari rasa senang dan kepuasan hati meskipun berada di atas penderitaan dan ketidakpuasan orang lain.

Kalaupun para perempuan pelacur harus ditertibkan, justru semestinya para pelacur yang berada dibalik kedudukan dan terpandangnya status sosial yang harus lebih dahulu ditertibkan. Namun akhirnya, para perempuan pelacur itu pun harus puas dengan ketidakpuasannya, karena masyarakat pada umumnya sudah terlanjur menganggap mereka sebagai manusia hina dina, kotor, dan menjijikan. Perbuatan mereka seakan dianggap lebih buruk dari perbuatan menjual kebenaran, kejujuran dan keadilan yang dilakukan para oknum pejabat atau penegak hukumnya. Berdasarkan pengertian filosofis dari makna pelacur tadi, pelacur tetap pelacur, apapun jenis dan tingkatannya, sama hinanya dalam pandangan nilai-nilai luhur kehormatan diri. Dari itu, semoga kita senantiasa instrospeksi dan berhati-hati agar sikap dan perilaku kita tidak menjurus pada tindakan melacurkan diri.

FILSAFAT PENDIDIKAN

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

2.1 PENGERTIAN FILSAFAT PENDIDIKAN

2.1.1. Makna Pendidikan                                    

            Makna pendidikan dapat dilihat dalam pengertian secara khusus dan pengertian secara luas. Dalam arti khusus, Langeveld mengemukakan bahwa pendidikan adalah bimbingan yang di berikan oleh orang dewasa kepada anak yang belum dewasa untuk mencapai kedewasaan. Menurut Prof. Hoogeveld. Mendidik adalah membantu anak supaya itu kelak cakap menyelesaikan tugas hidupnya atas tanggung jawab sendiri. jadi, pendidikan dalam arti  khusus hanya di batasi sebagai usaha orang dewasa dalam membimbing anak yang belum dewasa untuk mencapai kedewasaannya. Setelah anak menjadi dewasa dengan segala cirinya, maka pendidikan di anggap selesai. 

            Pendidikan dalam arti luas merupakan usaha manusia untuk meningkatkan kesejahteraan hidupnya, yang berlangsung sepanjang hayat. Menurut Henderson pendidikan adalah suatu proses pertumbuhan dan perkembangan, sebagai hasil dari interaksi individu dengan lingkungan sosial dan lingkungan fisik, berlangsung sepanjang hayat sejak manusia lahir. Warisan sosial merupakan bagian dari lingkungan masyarakat, merupakan alat bagi menusia untuk pengembangan manusia yang baik dan intelegen, untuk meningkatkan kesejahteraan hidupnya.

            Dalam GBHN tahun 1973di kemukakan pengertian pendidikan, bahwa, “pendidikan pada hakekatnya merupakan suatu usaha yang di sadari untuk mengembangkan kepribadian dan kemampuan manusia, yang dilaksanakan di dalam maupun di luar sekolah, dan berlangsung seumur hidup”.

Dari pengertian-pengertian pendidikan di atas ada prinsip dasar tentang pendidikan yang akan di laksanakan yaiut:

  1. Bahwa pendidikan berlangsung seumur hidup. Usaha pendidikan sudah di mulai sejak manusia lahir dari kandungan ibunya, sampai tutup usia selama ia mampu menerima pengaruh dan dapat mengembangkan dirinya.
  2. tanggung jawab pendidikan merupakan tanggung jawab bersama semua manusia. Tanggung jawab orang tua, masyarakat dan pemerintah.
  3. bagi manusia pendidikan merupakan suatu keharusan, karena dengan pendidikan manusia akan memiliki kemampuan dan kepribadian yang berkembang.

 

2.1.2 Tujuan Pendidikan

            Tujuan pendidikan merupakan gambaran dari falsafah atau pandangan hidup manusia, baik secara perseorangan maupun kelompok. Membicarakan tujuan pendidikan akan menyangkut sistem nilai dan norma-norma dalam suatu konteks kebudayaan, baik dalam mitos, kepercayaan (religi), filsafat, ideologi dan sebagainya.

Tujuan pendidikan harus mengandung tiga nilai yaitu:

  1. autonomy. memberi kesadaran, pengetahuan, dan kemampuan secara maksimum kepada individu maupun kelompok, untuk dapat hidup mandiri, dan hidup bersama dalam kehidupan yang lebih baik.
  2. equity. Atau keadilan, bahwa tujuan pendidikan tersebut harus memberi kesempatan kepada seluruh warga masyarakat untuk dapat berpastisipasi dalam kehidupan berbudaya dan kehidupan ekonomi. Dengan memberikan pendidikan dasar yang sama.
  3. survival. Berarti bahwa dengan pendidikan akan menjamin pewarisan kebudayaan dari satu generasi ke generasi lainya.

 

Berdaskan ke tiga nilai tersebut di atas, pendidikan mengemban tugas untuk menghasilkan generasi yang lebih baik, manusia-manusia yang berkebudayaan.

Secara umum yang di sebut manusia dewasa adalah:

  1. manusia mandiri, dapat hidup sendiri, mengambil keputusan sendiri tanpa menggantungkan diri pada orang lain.
  2. manusia yang bertanggung jawab, yaitu manusia yang dapat mempertanggungjawabkan segala perbuatannya, dan dapat di minta pertanggungjawaban atas perbuatannya. Anak yang belum dewasa belum dapat di mintai pertanggungjawaban atas segala perbuatannya.
  3. manusia yang telah mampu memahami norma-norma serta moral dalam kehidupan, dan sekaligus bersanggupan untuk melaksanakan norma dan moral tersebut dalam hidup dan kehidupannya, yang di manifestasikan dalam kehidupan bersama.

 

2.1.3 Alat Pendidikan

            Alat pendidikan merupakan suatu situasi yang di ciptakan secara khusus dengan maksud mempengaruhi anak didik secara padagogis (edukatif). Apabila perbuatan dalam situasi tersebut tidak di sengaja untuk mencapai tujuan pendidikan, maka perbuatan tersebut di sebut faktor pendidikan. Secara lahiriah sukar untuk membedakan antara alat pendidikan dengan faktor pendidikan kadang-kadang alat pendidikan dengan faktor pendidikan bisa sama. Contoh: ibu menyuruh anaknya mencuci piring dengan tujuan anak tersebut memiliki tanggung jawab dan disiplin kerja. Maka perbuatan tersebut adalah alat pendidikan. Di lain pihak, seorang ibu menyuruh anaknya mencuci piring dengan tujuan hanya sekedar untuk membantu meringankan beban pekerjaan ibunya, maka perbuatan tersebut adalah faktor pendidikan. Untuk menentukan apakah perbuatan tersebut merupakan alat atau faktor pendidikan akan tergantung pada kata hati atau kemauan si pendidik sendiri.

            Langeveld (1965) pengelompokkan empat alat pendidikan yaitu:

  1. Perlindungan

Perlindungan merupakan syarat bagi semua pergaulan termaksud di dalamnya pergaulan pendidikan. Perlindungan harus datang dari pihak orang dewasa yang bertindak untuk melindungi anak didik.

  1. Kesempaham

kesepahaman timbul kerana orang dewasa baik disadari maupun tidak disadari, akan menjadi contoh (teladan) bagi anak didik. Dan sebaliknya pula di sadari atau tidak. Anak akan mencoba (meniru) perbuatan di pendidik.

  1. Kesamaan Arah dalam Pikiran dan Perbuatan

Kesamaan arah dalam pikiran dan perbuatan dapat berupa asimilasi dari pendidik dan konfirmasi dari anak didik. Jadi, kesamaan arah ini terjasi antara perbuatan pendidik dan perbuatan anak didik.

  1. Perasaan Bersatu

perasaan bersatu timbul karena interaksi yang berlangsung antara pendidik dan anak didik yang bersifat kekeluargaan dan menimbulkan saling pengertian serta saling mengisi di antara ke dua pihak.

2.1.4 Pendidikan Berlangsung Sepanjang Hayat

a. bagaimana pendidikan berlangsung sepangjang hayat?

            Manusia adalah mahkluk yang tumbuh dan berkembang. Ia ingin mencapai suatu kehidupan yang optimal, kehidupan yang lebih baik secara optimal. Selama manusia berusaha untuk meningkatkan kehidupannya, baik dalam meningkatkan dan mengembangkan kepribadia serta kemampuan atau keterampilannya, secara sadar atau tidak sadar, maka selama itulah pendidikan masih berjalan terus.

            Pendidikan sepanjang hayat memandang jauh ke depan, berusaha untuk menghasilkan manusia dan masyarakat baru, sepanjang hayat merupakan asas pendidikan yang cocok bagi orang-orang yang hidup dalam dunia transformasi dan informasi, dan di dalam masyarakat yang saling mempengaruhi, yaitu masyarakat modren. Manusia tersebut harus dapat menyesuaikan dirinya secara terus-menerus dengan situasi baru.

            Menurut konsep pendidikan sepanjang hayat, kegiatan-kegiatan pendidikan di anggap sebagai suatu keseluruhan. Seluruh sektor pendidikan merupakan suatu sistem yang terpadu. Konsep ini harus di sesuaikan dengan kenyataan serta kebutuhan masyarakat yang bersangkutan. Pendidikan bukan hanya berlangsung di sekolah. Pendidikan akan mulai segera setelah anak lahir dan akan berlangsung terus-menerus sampai manusia meninggal dunia. Selama ia mampu meneriam pengaruh-pengaruh.

b. implikasi pendidikan sepanjang hayat

            implikasi konsep pendidikan sepanjang hayat dapat di lihat dari beberapa asfek, di antaranya yaitu:

1)      Cara Belajar

Dalam belajar di butuhkan standar pendidikan yang lebih Fleksibel, lebih dinamis, dan lebih terbuka terhadap dunia dan lingkungan sekitarnya. Dalam proses pendidikan harus lebih menekankan pembentukan individu dari pada hanya belajar semata.

2)      Model pendidikan

Menurut Hummel )1977), ada beberapa pendidikan yang sesuai dengan konsep pendidikan sepanjang hayat yaitu:

  1. pendidikan sebelum sekolah

pendidikan sebelum sekolah menduduki tempat yang penting dalam sistem pendidikan sepanjang hayat. Pendidikan pada periode  sebelum sekolah menentukan di dalam sistem pendidikan sepanjang hayat, dan  merupakan tempat yang paling efektif dalam pembentukan kepribadian anak yang demokratis. Yang di kembangkan dalam periode ini adalah kebebasan psikologis dan sosialisasi anak yang di biasakan dengan permainan, pergaulan dengan teman sebaya dll.

  1. pendidikan dasar

pada fase ini di berikan pengetahuan yang esensial sebagai dasar dan bekal pendidikan umum (pendidikan moral, agama dan sosial) penguasaan bahasa tertentu (nasional dan asing), matematika, dasar-dasar metode dan teknik berpikir.

  1. pendidikan jabatan

pendidikan jabatan di selenggarakan pada tingkat akhir pendidikan dasar. Pada tingkat tersebut di sediakan dua pilihan. Pertama, pilihan membawa siswa ke tingkat pendidikan yang lebih tinggi. Ke dua, pilihan ke arah latiha jabatan. Yaitu pendidikan yang memberi bekal keterampilan untuk persiapan pekerjaan.

  1. pendidikan orang dewasa

pendidikan orang dewasa merupakan kunci dari sistem pendidikan sepanjang hayat. Pendidikan orang dewasa harus di kembangkan secara maksimal.

 

PENGERTIAN FILSAFAT PENDIDIKAN

                        Filsafat pendidikan menurut  AL-Syaibany ( 1979) adalah:

            “pelaksanaan pandangan faalsafah dan kaidah falsafah dalam bidang pendidikan filsafat itu mencerminkan satu degi dari-segi pelaksanaan falsafah umum dan menitik beratkan kepada pelaksanaan prinsip-prinsip dan kepercayaan-kepercayaan yang menjadi dasar falsafah umum dalam menyelesaikan masalah-masalah dalam pendidikan praktis”.

                        Filsafat pendidikan berdandarkan pada filsafat formal atau filsafat umum. Dalam arti bahwa masalah-masalah pendidikan merupakan karakter filsafat. Masalah-masalah pendidikan akan berkaitan dengan masalah-masalah filsafat umum, seperti:

  1. hakikat kehidupan yang baik, karena pendidikan akan berusaha untuk mencapainya;
  2. hakikat manusia, karena manusia merupakan makhluk yang menerima pendidikan;
  3. hakikat masyarakat, kerena pendidikan pada dasarnya merupakan suatu proses sosial;
  4. hakikat realitas akhir, kerena semua pengetahuan akan berusaha mencapainya.

 

Selanjudnya Syaibany berpandangan bahwa filsafat pendidikan , seperti halnya filsafat umum, berusaha mencari yang hak dan hakikat serta masalah yang berkaitan dengan proses pendidikan. Filsafat pendidikan berusaha untuk mendalami konsep-konsep pendidikan. Filsafat pendidikan berusaha memahami sebab-sebab yang hakiki dari masalah pendidikan. Filsafat pendidikan berusaha juga membahas tentang segala yang mungkin mengarahkan proses pendidikan.

Menurut Kneller (1971) filsafat pendidikan merupakan aflikasi filsafat dalam lapangan pendidikan. Seperti halnya filsafat, filsafat pendidikan dapat dikatakan spekulatif, preskriptif, dan analitik. Dikatakan spekulatif karena berusaha membangun teori-teori hakikat manusia, hakikat masyarakat, hakikat dunia, yang sangat bermanfaat dalam menafsirkan data-data sebagai hasil penelitian sains yang berbeda. Dikatakan preskriptif apabila filsafat pendidikan menentukan tujuan-tujuan yang harus diikuti dan digunakan dalam mencapai tujuan tersebut. Dikatakan analitik, apabila filsafat pendidikan menjelaskan pertanyaan-pertanyaan spekulatif dan preskriptif. Misalnya menguji rasionalitas  yang berkaitan dengan ide-ide atau gagasa-gagasan pendidikan, dan bagaiman konsistensinya dengan gagasan lain.

 

            KEBUTUHAN AKAN FILSAFAT PENDIDIKAN

            Cara kerja dan hasil filsafat dapat dipergunakan untuk memecahkan masalah hidup dan kehidupan manusia, di mana pendidikan merupakan salah satu asfek dari kehidupan tersebut, karena hanya manusia lah yang dapat melakasanakan pendidikan. Oleh karena itu, pendidikan membutuhkan filsafat. Mengapa pendidikan membutuhkan filasafat? Kerana masalah-masalah pendidikan tidak hanya menyangkut pelaksanaan pendidikan, yang hanya tebatas pada pengalaman. Dalam pendidikan akan muncul masalah-masalah yang lebih luas, lebih dalam, serta lebih komfleks yang tidak di batasi oleh pengalaman maupun fakta-fakta pendidikan yang faktual tidak memungkinkan dapat dijangkau dengan pendidikan sains.

            Filsafat pendidikan harus dapat menjawab empat pertanyaan pendidikan secara menyeluruh, yaitu:

  1. apakah pendidikan itu?
  2. mengapa manusia harus melaksanakan pendidikan?
  3. apakah yang seharusnya di capai oleh pendidikan?
  4. dengan cara yang bagaimana cita-cita pendidikan yang tersurat maupaun yang tersirat dapat dicapai?

Jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan tersebut di atas akan sangat tergantung atau akan ditentukan oleh pandangan hidup dan tujuan hidup manusia, baik secara individu maupun secara bersama (masyarakat).

 

                  PERANAN FILSAFAT PENDIDIKAN

            Filsafat pendidikan harus mampu memberikan pedoman kepada para perencana pendidikan dan orang-orang yang bekerja dalam bidang pendidikan. Hal tersebut akan mewarnai perbutan mereka secara arif fan bijak menghubungkan usaha-usaha pendidikannya dengan filsafat umum, falssafah bangsa dan negaranya.

Dalam mengkaji peranan filasafat, dapat di tinjau dari segi tiga lapangan filsafat, yaitu metafisika, epistemologi, dan aksiologi.

  1. 1.      Metafisika dan Pendidikan

Metafisika merupakan bagian dari filsafat spekulatif. Yang menjadi pusat persoalanny adalah hakikat realitas akhir. Metafisika mencoba mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan berikut:

    1. apakah alam semesta memiliki bentuk rasional? Apakah alam semesta memiliki makna?
    2. Apakah yang dinamakan jiwa itu merupakan kenyataan dalam dirinya atau hanyalah suatu bentuk materi dalam gerak?
    3. Apakah semua perilaku organisme, termaksud manusia telah di terntukan (deterministik), atau memiliki kebebasan (inderterministik) ?
    4. Siapakah manusia? Dari mana asalnya? Apa yang di harapkan dalam hidup ini? Apa yang akan di tuju manusia?
  1. Apakah alam semesta ini terjadi dengan  sendirinya atau ada yang menciptakan?

Metafisika secara praktis akan menjadi persoalan utama dalam pendidikan. Karena anak bergaul dengan dunia sekitarnya, maka ia memiliki dorongan yang kuat untuk memahami tentang segala sesuatu yang ada. Anak, baik di sekolah maupun di masyarakat, selalu mengahadapi realitas, mengalami segala macam kejadian dalam kehidupannya. Anak melihat benda mati, makhluk hidup, hewan, manusia bahkan ia menyaksikan tentang kematian makhluk hidup. Metafisika merupakan bagian filsafat yang memperlajari hakikat: hakikat dunia, hakikat manusia, termaksud di dalamnya hakikat anak. Memperlajari metafisika bagi filsafat pendidikan diperlukan untuk mengontrol secara imflisit tujuan pendidikan, untuk mengetahui bagaimana dunia anak,  apakah ia merupakan makhluk rohani atau jasmani saja, atau keduanya.

  1. A.    Teologi

Teologi meupakan cabang filsafat yang membicarakan tentang Tuhan. Mengajukan pertanyaan-pertanyaan sekitar Tuhan dan bagaimana hubunga realitas, bagaimana hubungan Tuhan denga manusia, dan dengan kosmos. Siapa tuhan , bagaimana sifat-sifatnya.

Masayarakat indonesia berkeyakinan bahwa tuhan adalah pencipta alam semesta. Segala yang ada bersal/diciptakan oleh tuhan. Manusia dalam hidupnya harus mengabdi kepada Tuhan. Pada suatu saat ia akan kembali dan mempertanggungjawabkan segala amal perbuatannya selama hidupa di dunia. Padangan seperti ini akan mewarnai sistem pendidikan yang di lakukan masyarakat. Pendidikan akan selalu mempertimbangkan hubungan manusia dengan Tuhan.

  1. B.      Kosmologi

Kosmologi membicarakan realitas jagat raya, yakni keseluruhan sistem alam semesta. Kosmologi terbatas pada realitas yang lebih nyata, yaitu alam fisik yang sifatnya meterila. Walaupun kosmologi membicarakan alam fisik, tidak mungkin pengamatan dan penghayatan indera mampu mencakupnya. Oleh karena itu, kosmologi menghayati realitas kosmos secara intelektual.

Implikasi pembicaraan kosmologi bagi pendidikan bahwa kosmologi akan mengisi kepribadian manusia dengan realitas fisik. Peserta didik harus mengenal alam yang menjadi tempat hidup. Mengenal lingkungannya, mengenal hukum-hukum alam, hukum kausal, sehingga ia akan mengerti dan memahami keteraturan yang terjadi di jagat raya.

  1. C.    Manusia

Seperti yang telah di uraikan, bahwa metafisika mempersoalkan hakikat realitas, termaksud di dalamnya hakikat manusia dan hakikat anak. Pendidikan merupakan kegiatan khas manuisawi, hanya manusia lah yang secara sadar melakukan pedidikan untuk sesamanya. Pendidikan merupakan kegiatan antar manusia , oleh manusia dan untuk manusia. Oleh karena itu, pembicaraan tentang pendidikan tidak bermakna apa-apa tanpa membicarakan manusia.

Manusia adalah subjek pendidikan dan sekaligus objek pendidikan. Sebagai subjek pendidikan, manusia (khususnya manusia dewasa) bertanggungjawab dalam menyelenggarakan pendidikan. Secara moral berkewjiban atas perkembangan pribadi anak-anak mereka, generasi penerus. Manusia sebagai objek pendidikan, manusia (khususnya anak) merupakan “sasaran”, pembinaan dalam melaksanakan (proses) pendidikan, yang  pada hakikatnya ia memiliki pribadi yang sama seperti manusia dewasa, namun karena kodratnya belum berkembang.

Pendidikan dalam arti luas dan  mendasar adalah usaha membantu manusia untuk merealisasikan dirinya, memanusiakan manusia. Pendidikan berusaha membantu manusia untuk menyingkapkan dan menemukan rahasia alam, mengembangkan fitrah manusia yang merupakan potensi untuk berkembang, mengarahkan kecendrungannya dan membimbingnya demi kebaikan dirinya dan masyarakat.

1)      Manusia Sebagai Mahkluk Individu

Manusia pada hakikatnya sebagai mahkluk individu yang unik, berbeda antara satu dengan yang lainnya. Tidak ada manusia yang persis sama di ciptakan Tuhandi jagat raya ini, walaupun pada anak kembar sekalipun. Secara fisik mungkin manusia akan banyak memiliki persamaan, namun secara psikologis rohaniah akan banyak menunjukan perbedaan.

2)      Manusia sebagai mahkluk sosial

Manusia lahir di dunia dari rahim ibunya dalam keadaan tidak mengetahui apa-apa, ia lahir dalam keadaan tidak berdaya. Namun, bersamaan dengan itu, ia lahir memiliki potensi kemanusiaan berupa kekuatan pendengaran. Kekuatan penglihatan, dan budi nurani. Potensi kemanusiaan tersebut merupakan modal dasar bagi manusia untuk berkembang menjadi dirinya sendiri.

Dalam proses pengembangannya potensi kemanusiaan yang dimilikinya, tidak berlangsung secara alamiah dengan sendirinya, tetapi ia membutuhkan bimbingan dan bantuan manusia lain di luar dirinya. Sejak mulai lahir anak manusia akan berinteraksi dengan ibunya, dengan ayahnya, dengan saudara-saudaranya, dengan masyarakat sekelilingnya. Anak hanya akan menjadi manusia kalau ia hidup bersama-sama dengan manusia lain di luar dirinya.

3)      Manusia sebagai mahkluk susila

Manusia yang lahir dilengkapi dengan kata hati atau hati nurani, yang memungkinkan ia memiliki potensi untuk dapat membedakan perbuatan baik dan buruk, sehingga ia dapat memiliki pengetahuan yang berkaitan dengan itu. Manusia sebagai mahkluk susila mampu memikirkan dan menciptakan norma-norma untuk mengetur kehidupannya, baik kehidupan individunya maupun kehidupan sosilanya. Manusia merupakan makhluk yang mampu memahami nilai-nilai susila, dan mampu mengambil keputusan susila, serta sekaligus ia memiliki kemampuan untuk mengarahkan dirinya terhadap perbuatan susila dalam prilakunya.

4)      Manusia sebagai mahkuk ber-Tuhan

Manusia merupakan makhluk yang memiliki potensi dan mampu mengadakan komunikasi dengan tuhan sebagai maha pencipta alam semesta. Manusia adalah makhluk yang sadar akan dirinya sendiri, sadar dengan kehidupan sosial, sadar akan nilai fungsi susila dalam kehidupan pribadi maupun kehidupan sosial. lebih meningkat lagi manusia adalah makhluk yang sadar akan adanya suatu kekuatan yang berada di luar dirinya, yang menguasuai jagat raya ini, yang mengatur kehidupan jagat raya ini, Tuhan yang Maha Kuasa

 

 

  1. 2.      Epistemologi dan Pendidikan

Kumpulan pertanyaan berikutnya yang berhubungan dengan para guru adalah epitemologi. Pertanyaan-pertanyaan ini semuanya berfokus pada pengetahuan: pengetahuan apa yang benar? Bagaimana mengetahui itu berlangsung? Bagaimana kita mengetahui bahwa kita mengetahui? Bagaimna kita memutuskan antara dua pandangan pengetahuan yang berlawanan? Apakah kebenaran itu konstan, ataukah kebenaran itu berubah dari situasi satu ke situasi lainnya? Dan pada akhirnya pengetahuan apakah yang paling berharga?

Sekalipun suatu pertimbangan kausal dari pertanyaan-pertanyaan epistemologi memperlihatkan bahwa ada banyak cara mengetahui mengenai dunia. Kita yakin bahwa ada setidaknya lima cara berbeda mengetahui yang merupakan minat/ kepentingan guru.

    1. mengetahui yang didasarkan otoritas
    2. mengetahui yang didasarkan pada wahyu tuhan
    3. mengetahui yang di dasarkan pada empirisme ( pengalaman)
    4. mengetahui yang didasarkan pada nalar
    5. mengetahui yang didasarkan pada intuisi

 

  1. Aksiologi dan Pendidikan

Aksiologi sebagai cabang filsafat yang membahas nilai baik dan nilai buruk, indah dan tidak indah (jelek), erat berkaitan dengan pendidikan, kerena dunia nilai akan selalu dipertimbangkan, atau akan menjadi dasar pertimbangan dalam menentukan tujuan pendidikan. Langsung atau tidak langsung. Nilai akan menentukan pendidikan.

Pendidikan secara langsung berkaitan dengan nilai. Berdasarkan nilai tersebut, pendidikan dapat menentukan tujuan, motivasi, kurikulum,motode balajar dan sebagainya. Pendidikan terlebih dahulu harus menentukan nilai mana yang akan di anut sebelum menentukan kegiatannya Pembahasan nilai-nilai pendidikan. Nilai mana yang akan di anut sebelum menentukan kegiatannya. Hal ini berarti bahwa nilai terletak dalam tujuan. Pembahasan nilai-nilai pendidikan terletak di dalam rumusan dan uraian tentang tujuan pendidikan. Di dalam tujuan pendidikan itulah tersimpul semua nilai pendidikan yang hendak di wujudkan di dalam pribadi peserta didik.

  1. Etika

Pengetahuan tentang etika dapat membantu guru memecahkan banyak dilema yang muncul di kelas. Seringkali, para guru harus mengambil tindakan dalam situasi-situasi di mana mereka tidak mampu mengumpulkan semua fakta relevan dan dimana tidak ada arah tindakan yang tunggal yang secara total benar atau salah. Misalnya, seorang siswa pada hasil pekerjaan sebelumnya berada di atas rata-rata, menjiplak suatu makalah; haruskah guru membatalkan siswa tersebut untuk meta pelajaran itu jika contoh dari hukuman yang cepat dan tegas kemungkinan mencegah para siswa lain melakukan penjiplakan? Atau haruskah guru, yang mengikuti dugaan mengenai apa yang akan terjadi pada minat jangka panjang siswa, menyuruh siswa itu mengerjakan kembali makalah ujian itu dan mengambil resiko kemungkinan para siswa lain melakukan gagasan yang salah tersebut sehingga penjiplakan tidak memiliki konsekuensi negatif?

  1. Estetika

Cabang dari aksiologi yang di kenal sebagai estetika itu berhubungan dengan nilai-nilai yang berkaitan dengan keindahan  dan seni. Sekalipun kita berharap bahwa para guru musik, seni, drama, sastra, dan guru menulis secara teratur meminta para siswa membuat penilaian-penilaian mengenai kualitas karya seni, kita dapat denga mudah mengabaikan peran yang harus di mainkan estetika di semua bidang kurikulum.

  1. logika dan pendidikan

penalaran merupakan suatu proses berfikir yang membuahkan pengetahuan, agar pengetahuan yang di hasilkan penalaran itu memiliki dasar kebenaran, maka proses berfikir itu harus di lakukan dengan suatu cara tertentu . suatu penarikan kesimpulan baru di katakan sahih kalau proses penarikan kesimpulan tersebut di lakukan dengan cara tertentu tersebut. Cara penarikan kesimpulan ini di sebut “ logika”, yang secara luas di definisikan sebagai “pengkajian untuk berfikir secara sahih”.

 

3.1.4  APA YANG MENENTUKAN FILSAFAT PENDIDIKAN SESEORANG

Dalam bentuk yang paling sederhana, filsafat pendidikan terdiri dari apa yang di yakini seorang mengenai pendidikan. Merupakan kumpulan prinsip yang membimbing tindakan profesional seorang lebih jauh lagi, filsafat pendidikan berkaitan dengan “penetapan hakekat dari tujuan, alat pendidikan, dan kemudian menerjemahkan prinsip-prinsip ini ke dalam kebijakan-kebijakan untuk meng-implementasikannya.

Setiap guru apakah mengetahuinya ataupun tidak, memiliki suatu filsafat pendidikan, yaitu seperangkat kayakinan mengenai bagaimana manusia belajar dan tumbuh serta apa yang harus menusia pelajari agar dapat tinggal dalam kehidupan yang baik.

Filsafat pendidikan juga secara vital berhubungan dengan pengembangan semua asfek  pengajaran. Dengan menempatkan filsafat pendidikan pada tataran praktis , para guru dapat menemukan berbagai pemecahan pada banyak permasalahan pendidikan. Lima tujuan filsafat pendidikan dapat mengklarifikasi bagaimana dapat berkontribusi pada pemecahan-pemecahan tersebut. Yaitu:

  1. filsafat pendidikan terikat dengan peletakan suatu perencanaan, apa yang di anggap sebagai pendidikan terbaik secara mutlak.
  2. filsafat pendidikan berusaha memberikan arah dengan merujuk pada macam pendidikan yang tebaik dalam suatu konteks politik, sosial, dan ekonomi.
  3. filsafat pendidikan dipenuhi dengan koreksi pelanggaran-pelanggarana prinsip dan kebijakan pendidikan.
  4. filsafata pendidikan memusatkan perhatian pada isu-isu dalam kebijakan dan praktek pendidikan yang mensyaratkan resolusi, baik dengan penelitian empiris ataupun pemeriksaan ulang rasional.
  5. filsafat pendidikan melaksanakan suatu inkruiri dalam keseluruhan urusan pendidikan dengan suatu pandangan terhadap penilaian, pembenaran, dan pembaharuan sekumpulan pengalaman yang penting.