CONTOH PROPOSAL PENELITIAN KUANTITATIF

hubungan prestasi akademik mahasiswa sosiologi angkatan 2010 universitas sumatera utara dengan organisasi mahasiswa

 

A.    Latar Belakang Masalah

IPK singkatan dari Indeks Prestasi Kumulatif merupakan ukuran kemampuan mahasiswa sampai pada periode tertentu yang dihitung berdasarkan jumklah SKS (Satuan Kredit Semester ) tiap mata kuliah yang telah ditempuh. Ukuran nilai tersebut akan dikalikan dengan nilai bobot tiap mata kuliah kemudian dibagi dengan jumlah SKS mata kuliah yang telah ditempuh dalam periode tersebut. IPK dapat diperoleh dengan adanya kerjasama antara dosen dan mahasiswa. Dosen akan memberikan nilai kepada mahasiswa sebelum kuliah dimulai pada awal semester. Biasanya para dosen menetapkan atuaran selama kuliah berlangsung yang akan disepakati keduanya pada semester tersebut. Aturan itu bisa terdiri dari . kehadiran mahasiswa, tugas individu ataupun kelompok, nilai UAS (Ujian Akhir Semester).

Organisasi mahasiswa merupakan suatu bentuk aktivitas ekstra kurikuler dengan maksut untuk mengembangkan potensi dari mahasiswa kearah peningkatan wawasan, rasa keagamaan, nilai sosial dan kesetiakawanan kemanusiaan, pemupukan minat serta pelestarian sumber daya alam. Fungsi dari organisasi kemahasiswaan adalah sebagai manifestasi penyiapan diri untuk menjadi seorang yang lebih dewasa dan mandiri setelah menyelesaikan studi dan kembali ke masyarakat. Namun, sebagian mahasiswa mengganggap organisasi kemahasiswaan itu dapat mengganggu kuliah terutama yang menyangkut dengan IPK. Terkadang mahasiswa hanya ikut-ikutan saja berorganisasi agar tidak di ejek atau di cemooh kan oleh temannya. Malahan sebagian mahasiswa jika ti Tanya berapa organisasi yang kamu ikuti di kampus? Jawaban nya terkadang mudah di mengerti, karena banyak tugas kuliah yang numpuk dan tidak punya waktu untuk kegiatan-kegiatan yang tidak  penting. Jawaban lainnya, yang penting saya tamat walaupun tanpa satu organisasi pun yang saya ikuti.

B.     Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang dipaparkan di atas maka dapat disimpulkan rumusan masalah sebagai berikut:

  1. Apakah ada hubungan antara organisasi kemahasiswaan dengan IPK Mahasiswa Sosiologi angkatan 2010 Universitas Sumatera Utara?
  2. Seberapa jauh pengaruh positif dan negatif organisasi mahasiswaan terhadap IPK Mahasiswa sosiologi 2010 Universitas Sumatera Utara.

C.    Tujuan Penelitian

Berdasarkan latar belakang di atas maka penelitian ini bertujuan untuk:

  1. Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh organisasi kemahasiswaan terhadap IPK Mahasiswa Sosiologi angkatan 2010 Universitas Sumatera Utara.
  2. Untuk mengetahui Tingkat Prestasi Akademik Mahasiswa Sosiologi angkatan 2010 Universitas Sumatera Utara.

 

  1. D.    Manfaat Penelitian
    1. Secara Teoritis

Penelitian ini di harapkan dapat memberikan gambaran pengaruh organisasi kemahasiswaan dengan IPK Mahasiswa Sosiologi angkatan 2010 Universitas Sumatera Utara.

  1. Secara Praktis

Sebagai bahan acuan bagi mahasiswa yang berminat mengadakan penelitian lebih lanjut dan sebagai data dasar bagi perkembangan sistem pendidikan guna terciptanya sumber daya manusia yang berkualitas.

 

  1. E.     Tinjauan Pustaka, Kerangka Berfikir dan Hipotesis
  2. 1.      Tinjauan Teoritis Tentang Organisasi Kemahasiswaan
  3. a.      Definisi Organisasi kemahasiswaan

Menurut Inda organisasi adalah kesatuan (susunan dsb) yang terdiri atas begian-bagian (orang dsb) di dalam perkumpulan dsb untuk tujuan tertentu. Kata dasar kemahasiswaan adalah mahasiswa.  Mahasiswa adalah orang yang belajar diperguruan tinggi. Jadi dapat di tarik kesimpulan organisasi mahasiswa adalah perkumpulan-perkumpulan masiswa di lingkungan universitas yang memiliki tujuan.

Organisasi mahasiswa adalah organisasi yang beranggotakan mahasiswa. Organisasi ini dapat berupa organisasi kemahasiswaan intra kampus, organisasi kemahasiswaan ekstra kampus, maupun semacam ikatan mahasiswa kedaerahan yang pada umumnya beranggotakan lintas-kampus.(http://inggreat.blogspot.com/2010/10/pengertian-organisasi-mahasiswa.html).

b.      Sejarah Organisasi Mahasiswa

Nugroho (2009) Secara historik kita lihat adanya dua macam organisasi mahasiswa berdasarkan lingkungan kegiatannya, yakni:

  1. Organisasi mahasiswa extrauniversiter (organisasi extra)
  2. Organisasi mahasiswa intrauniversiter ( organisasi intra)

Menurut sejarah yang lebih dulu ada di Indonesia adalah organisasi extra yakni pada jaman Hindia Belanda. Sedangkan organisasi intra sejauh pengetahuan saya baru baru ada pada jaman kemerdekaan. Organisasi federatif yang pertama juga timbul dalam lingkungan organisasi extra. Yakni persatuan perhimpunan-perhimpunan mahasiswa Indonesia (PPMI). Sedangkan organisasi federatif di dalam lingkungan organisasi intra, yakni Majelis Mahasiswa Indonesia (MMI) baru kemudian timbulnya. Organisasi mahasiswa extra yang pernah ada di Indonesia dapat dibagi atas tiga jenis, yaitu:

    1. Yang Berdasarkan Agama

Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Persatuan Mahasiswa Katholik Republik Indonesia (PMKRI), Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) dan lain-lain.

    1. Yang Berdasarkan Politik/Golongan

Contoh daripada jenis kedua adalah Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), Gerakan Mahasiswa Sosialis (GM Sos), Consentrasi Gerakan Mahasiswaa Indonesia (CGMI), dan lain-lain.

    1. Yang Berdasarkan Lokalitas

Contoh daripada jenis ketiga adalah  Gerakan Mahasiswa Djakarta (GMD),  Ikatan Mahasiswa Djakarta (Imada), Persatuan Mahasiswa Bandung (PMB), Masyarakat Mahasiswa Bogor (MMB),  dan sebagainya.

Kegiatan organisasi intra meliputi studi maupun rekreasi. Tetapi karena bidang studi masing-masing anggota berbeda-beda, maka kegiatan studi tidak begitu merata. Ada kecenderungan, bahwa anggota-anggota sefakultas saja yang berkumpul-kumpul  untuk keperluan tenteren atau mencari mentor. Dengan demikian para anggota mencari kepuasan lain pada organisasi-organisasi extra; organisasi agama, yang dicari adalah kepuasan batin di bidang agamanya masing-masing, pada organisasi politik yang dicari adalah kepuasan  dalam kehidupan politik, sedangkan pada organisasi lokal, lebih dicari adalah rekreasi dan keseronokan atau gezelligheid. Karena organisasi extra ini berdasarkan sistim keanggotaan aktif (artinya para anggota itu secara aktif melamar untuk menjadi anggota), maka untuk dapat diterima menjadi anggota secara ikhlas mereka menjalani perpeloncoan atau inisiasi. Lain halnya dengan organisasi intra, yang memakai sistim keanggotaan pasif, artinya siapa saja yang terdaftar menjadi mahasiswa tertentu daripada universitas tertentu, dengan sendirinya diakui sebagai anggota ”keluarga mahasiswa” fakultas atau universitas yang bersangkutan. Karena itu pada tahun 1950-an itu tidak ada perpeloncoan pada organisasi intra. Akan tetapi dengan langgam berpolitik pada jaman Demokrasi Liberal, yang berdasarkan persaingan bebas, partai-partai politik secara aktif mencari pengaruh dan bahkan mencari pengikut di dalam kampus; suatu hal yang mengundang reaksi dari mereka yang (menurut istilah sekarang) berjiwa Alma Mater. Reaksi itu ada dua macam, pertama reaksi yang disebut depolitisasi, artinya sikap yang menjauhi dan bahkan men-tabukan politik di dalam lingkungan kampus. Dan kedua adalah apa yang saya sebutkan transpolitisasi, yakni kegiatan mempelajari politik supaya tidak dapat ditunggangi kaum politik yang menyerbu kampus-kampus untuk mencari pengaruh dan pengikut. Namun barangsiapa ingin melakukan politicking, harus melakukannya di luar kampus.

Karena hasrat kelompok transpolitis untuk berorganisasi dalam rangka memperoleh apa yang sekarang disebut pendidikan politik, maka kemudian senat-senat mahasiswa diperkuat dan dikoordinasi dengan sebuah dewan mahasiswa. Dewan Mahasiswa Universitas Indonesia dibentuk pada tahun 1954 dan dengan itu dimasukilah era baru di dalam Pergerakan Mahasiswa Indonesia. Karena pada waktu itu yang hampir bersamaan terbentuklah pula Dewan Mahasiswa Universitas Gajah Mada. Karena kaum transpolitis, berbeda dengan kaum apolitis, adalah orang-orang yang tidak buta politik, bahkan cukup banyak yang sadar politik, meskipun politiknya adalah ”politik” dengan ”P” besar atau politik nasional, bukan politik partikularistik berdasarkan afiliasi partai atau golongan, maka timbullah sikap menyaingi organisasi extra. Sikap menyaingi itu antara lain diungkapkan dengan mengadakan perpeloncoan di dalam kampus bagi mahasiswa baru. Dengan demikian banyak mahasiswa yang lalu tidak merasa perlu untuk juga menjadi anggota organisasi extra. (Mereka cukup diplonco satu kali saja). namun organisasi extra tidak tinggal diam. Karena mereka disaingi oleh organisasi intra, maka apa yang mereka lakukan? Mereka menyusup ke dalam tubuh organisasi-organisasi intra itu, baik pada tingkatan senat mahasiswa maupun pada tingkatan dewan mahasiswa. Menyusupnya adalah dengan memperjuangkan supaya jagonya menang pada pemilihan pengurus. Caranya ada yang halus, artinya dengan cara ”tahu sama tahu”, tetapi ada juga yang secara terang-terangan berkampanye untuk calon yang menjadi anggotanya. Setelah berhasil duduk dalam pengurus, tokoh-tokoh extra itu pada umumnya lalu memainkan bloc within di dalam masing-masing organisasi intra. Dengan demikian lambat laun politicking kembali ke kampus! Dan akhirnya seluruh kampus dalam politicking, suatu perkembangan yang mencapai puncaknya pada tahun 1970-an. Dalam periode ini telah pula berkembang suatu gejala dalam kehidupan politik Indonesia yakni organisasi tanpa bentuk. Di samping kekuatan-kekuatan politik yang terorganisasi secara formal, terdapat pula kekuatan-kekuatan politik yang tidak terorganisasi secara formal, namun dampak kegiatannya terasa di kampus. Sebagai akibat kombinasi politisasi dan depolitisasi kampus, banyak mahasiswa Universitas Indonesia terpengaruh olehnya. Baru sejak dilaksanakannya transpolitisasi, mahasiswa Universitas Indonesia  dapat membebaskan diri dari pengaruh-pengaruh external yang negatif itu dan kembali kepada kesetiaannya kepada Alma Mater.

  1. c.       Bentuk-Bentuk Organisasi Mahasiswa

Rokhmawati (2009) mengatakan bahwa Organisasi kemahasiswaan pada tingkat universitas terbagi atas 2 bentuk yaitu Badan Eksekutif Mahasiswa yang sering di sebut dengan BEM dan Unit kegiatan Mahasiswa ( UKM ). Kegiatan ini dalam rangka mewujudkan tujuan pendidikan nasional yang dapat dilaksanakan di dalam maupun di luar kampus kegiatan tersebut tidak di maksudkan untuk mendapatkan SKS ( Satuan Kredit Semester).

1)      Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) adalah wadah aktivitas kemahasiswaan untuk mengembangkan minat, bakat dan keahlian tertentu bagi para aktivis yang ada di dalamnya.Unit Kegiatan Mahasiswa sebetulnya adalah bagian/organ/departemen dari DewanMahasiswa. Ketika dilakukan pembubaran Dewan Mahasiswa, departemen-departemenDewan Mahasiswa ini kemudian berdiri sendiri-sendiri menjadi unit-unit otonom di Kampus. Unit Kegiatan Mahasiswa terdiri dari tiga kelompok minat : Unit-unit Kegiatan Olahraga, Unit-unit Kegiatan Kesenian dan Unit Khusus (Pramuka, Resimen Mahasiswa, Pers Mahasiswa,Koperasi Mahasiswa, Unit Kerohanian dan sebagainya)

2)      Badan Perwakilan Mahasiswa (BPM) adalah organisasi mahasiswa Intra Universiter di Indonesiayang dibentuk pada saat pemberlakuan kebijakan NKK/BKK pada tahun 1978. Sejak 1978-1989, Badan Perwakilan Mahasiswa hanya ada di tingkat Fakultas bersama-sama denganSenat Mahasiswa. Ada kerancuan istilah BPM dengan Senat Mahasiswa karena sama-sama berarti wakil. Hanya saja menurut aturan main, BPM dianggap berfungsi sebagai badanlegislatif sedangkan Senat Mahasiswa menjalani fungsi eksekutif.Akhirnya, karena ketidakjelasan fungsi BPM itu ketika era Senat Mahasiswa Perguruan Tinggiatau SMPT fungsi BPM digantikan Senat Mahasiswa. BPM sendiri dihapuskan. SenatMahasiswa yang tadinya badan eksekutif berubah menjadi badan legislatif. Sedangkan badaneksekutifnya dibentuk Badan Pelaksana Senat Mahasiswa, yang lantas diubah lagi menjadiBadan Eksekutif Mahasiswa atau BEM. Istilah ini bertahan hingga saat ini

3)      Badan Eksekutif MahasiswaBadan Eksekutif Mahasiswa (BEM) ialah lembaga kemahasiswaan yang menjalankan organisasiserupa pemerintahan (lembaga eksekutif). Dipimpin oleh Ketua/Presiden BEM yang dipilihmelalui pemilu mahasiswa setiap tahunnya. Di beberapa kampus seperti UniversitasIndonesia, masih digunakan nama Senat Mahasiswa (SM).

4)      Himpunan Mahasiswa Jurusan kelompok sejenis banyak yang membentuk jaringan dengan HMJsejenis di Perguruan Tinggi lainnnya, sehingga, seperti juga Senat Mahasiswa, maka adaIkatan Himpunan Mahasiswa Jurusan sejenis skala nasional. Sebut saja nama IkatanMahasiswa Komunikasi Indonesia yang menghimpun HMJ Komunikasi Fisip, beberapadiantaranya berstatus Senat Mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi. Atau Ikatan MahasiswaAdministrasi Indonesia. Juga ada Ikatan Mahasiswa Geografi Indonesia atau IMAHAGI. Ada juga F-KMDGI yang menghimpun HIMA Desain Grafis se Indonesia.

d.      Teori Kecerdasan

Ada tujuh kecerdasan yang digagas oleh Howard Garner yang biasa disebut Multiple Intelligences. Ketujuh kecerdasan itu adalah: kecerdasan linguistik, matematis-logis, spasial, kinestetis-jasmani, musikal, interpersonal, dan intrapersonal.

Setiap anak bisa memiliki satu atau beberapa kecerdasan yang menonjol dan beberapa kecerdasan lain yang normal atau bahkan rendah. Berikut penjelasan untuk setiap kecerdasan:

1)      Kecerdasan linguistik. Kemampuan menggunakan kata secara efektif baik secara lisan maupun tulisan. Kecerdasan ini meliputi kemampuan memanipulasi tata bahasa atau struktur bahasa, fonologi (bunyi bahasa), semantik (makna bahasa), dimensi paragmatik (penggunaan praktis bahasa). Penggunaan bahasa mencakup aspek retorika (penggunaan bahasa untuk mempengaruhi orang lain untuk melakukan tindakan tertentu), mnemonik (penggunaan bahasa untuk mengingat informasi), eksplanasi (pengunaan bahasa untuk member informasi), dan meta bahasa (penggunaan bahasa untuk membahas bahasa itu sendiri). Kecerdasan ini biasanya dimiliki oleh pendogeng, orator, politisi, pembawa acara, pembicara publik, pemceramah, sastrawan, dan sebagainya.

2)      Kecerdasan matematis-logis. Kemampuan menggunakan angka dengan baik dan melakukan penalaran yang benar. Kecerdasan ini meliputi kepekaan terhadap pola dan hubungan logis, pernyataan dan dalil (jika-maka sebab akibat), fungsi logis dan abstraksi-abstraksi lain. Proses yang digunakan dalam kecerdasan matematis antara lain: kategorisasi, klasifikasi, pengambilan kesimpulan, generalisasi, penghitungan, dan pengujian hipotesis. Kecerdasan ini biasanya dimiliki oleh ahli matematika, insinyur, pekerja keuangan, ahli statistik, ilmuawan, perencana, dan sebagainya.

3)      Kecerdasan spasial. Kemampuan mempersepsi dunia spasial-visual secara akurat dan mentransformasikan persepsi dunia spasial-visual tersebut. Kecerdasan ini meliputi kepekaan terhadap warna, garis, bentuk, ruang, dan hubungan antar unsur-unsur tersebut. Kecerdasan ini meliputi kemampuan membayangkan, mempresentasikan ide secara visual atau spasial, dan mengorientasikan diri secara tepat dalam matrx spasial. Kecerdasan ini biasanya dimiliki oleh arsitek, dekorator, seniman, desainer, fotografer, sutradara film, dan sebagainya.

4)      Kecerdasan kinestetis-jasmani. Keahlian menggunakan seluruh tubuh untuk mengekspresikan ide dan perasaan dan mengunakan tangan untuk menciptakan atau mengubah sesuatu. Kecerdasan ini meliputi kemampuan-kemampuan fisik yang spesifik, seperti koordinasi keseimbangan, keterampilan, kekuatan, kelenturan, dan kecepatan maupun kemampuan menerima rangsangan dan hal-hal yang berkaitan dengan sentuhan. Kecerdasan ini biasa dimiliki oleh pengrajin, mekanik, dokter bedah, at let, aktor, penari, dan sebagainya.

5)      Kecerdasan musikal. Kemampuan menangani bentuk-bentuk musikal, dengan cara mempersepsi, membedakan, mengubah, dan mengekspresikan. Kecerdasan ini meliputi kepekaan pada irama, pola titik nada atau melodi, dan warna nada atau warna suara suatu lagu. Kecerdasan ini biasanya dimiliki oleh para musisi dan penyanyi.

6)      Kecerdasan interpersonal. Kemampuan mempersepsi dan membedakan suasana hati, maksud, motivasi, serta perasaan orang lain. Kecerdasan ini meliputi kepekaan pada eksperesi wajah, suara, gerak-isyarat; kemampuan untuk membedakan berbagai macam tanda interpersonal; kemampuan menanggapi secara efektif tanda tersebut dengan tindakan pragmatis tertentu. Kecerdasan ini biasanya dimiliki oleh: politisi, pekerja sosial, psikolog, pewawancara dan sebagainya.

7)      Kecerdasan intrapersonal. Kemampuan memahami diri sendiri dan bertindak berdasarkan pemahaman tersebut. Kecerdasan ini meliputi kemampuan memahami diri yang akurat (kekuatan dan keterbatasan diri); kesadaran akan suasana hati, maksud motivasi, temperamen, dan keinginan, serta kemampuan berdisiplin diri, memahami dan menghargai diri. Kecerdasan ini biasanya dimiliki oleh penulis, spritualis, psikolog, ilmuwan, dan sebagainya.

e.       Prestasi Akademik

Prestasi adalah hasil karya yang di capai (bambang:1999). Prestasi adalah hasil dari suatu kegiatan yang telah dikerjakan, diciptakan, baik secara individual maupun kelompok. Prestasi tidak akan pernah dihasilkan tanpa suatu usaha yang baik berupa pengetahuan maupun berupa keterampilan (Qohar, 2000).

Prestasi menyatakan hasil yang telah diicapai, dilakukan, dikerjakan, dan sebagainya, dengan hasil yang menyenangkan hati diperoleh dengan jalan keuletan kerja (Nasrun, 2000).

Sobur (2006) dalam Sahputra (2009) menyatakan bahwa prestasi akademik merupakan perubahan dalam hal kecakapan tingkah laku, ataupun kemampuan yang dapat bertambah selama beberapa waktu dan tidak disebabkan proses pertumbuhan, tetapi adanya situasi belajar. Perwujudan bentuk hasil proses belajar tersebut dapat berupa pemecahan lisan maupun tulisan, dan keterampilan serta pemecahan masalah llangsung dapat diukur atau dinilai dengan menggunakan tes yang standar.

Menurut Setiawan (2000), prestasi akademik adalah istilah untuk menunjukkan suatu pencapaian tingkat keberhasilan tentang suatu tujuan, karena suatu usaha belajar telah dilakukan oleh seseorang secara optimal.

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi prestasi akademik, sebagaimana yang dikemukakan Rola (2006) terdapat empat faktor yang mempengaruhi prestasi akademik yaitu:

1)      Pengaruh keluarga dan kebudayaan

Besarnya kebebasan yang diberikan orang tua kepada anaknya, jenis pekerjaan orang tua dan jumlah serta urutan anak dalam keluarga memiliki pengaruh yang sangat besar dalam perkembangan prestasi. Produk-produk kebudayaan pada suatu daerah seperti cerita rakyat, sering mengandung tema prestasi yang bisa meningkatkan semangat.

2)      Peranan konsep diri

Konsep diri merupakan bagaimana individu berfikir tentang dirinya sendiri. Apabila individu percaya bahwa dirinya mampu untuk melakukan sesuatu, maka individu akan termotivasi untuk melakukan hal tersebut sehingga berpengaruh dalam tingkah lakunya.

3)      Pengaruh dari peran jenis kelamin

Prestasi akademik yang tinggi biasanya diidentikkan dengan makulinitas, sehingga banyak wanita yang belajar tidak maksimal khususnya jika wanita tersebut berada diantara pria. Pada wanita terdapat kecenderungan takut akan kesuksesan, yang artinya pada wanita terdapat kekhawatiran pada dirinya akan ditolak oleh masyarakat apabila dirinya memperoleh kesuksesan, namun sampai saat ini konsep tersebut masih diperdebatkan.

4)      Pengakuan dan prestasi

Individu akan berusaha bekerja keras jika dirinya merasa diperdulikan oleh orang lain. Dimana prestasi sangat dipengaruhi oleh peran orang tua, keluarga, dan dukungan lingkungan tenpat dimana individu berada. Individu yang diberi dorongan untuk berprestasi akan lebih realistis dalam mencapai tujuannya.

Sedangkan dipihak lain Soemanto dalam Sahputra (2009) menyatakan faktor yang mempengaruhi prestasi dan tingkah laku individu adalah:

1)      Konsep diri

Pikiran atau persepsi individu tentang dirinya sendiri, merupakan faktor yang penting mempengaruhi prestasi dan tingkah laku individu.

2)      Locus of Control

Dimana individu merasa melihat hubungan antara tingkah laku dan akibatnya, apakah dapat menerima tanggung jawab atau tidak atas tindakannya. Locus of control mempunyai dua dimensi, yakni dimensi eksternal dan dimensi internal. Dimensi eksternal akan menganggap bahwa tanggung jawab segala perbuatan berada di luar diri pelaku. Sedangkan dimensi internal melihat bahwa tanggung jawab sebagai perbuatan berada pada diri si pelaku. Individu yang memiliki locus of control eksternal memiliki kegelisahan, kecurigaan, dan rasa permusuhan. Sedangkan individu yang memiliki locus of control internal suka bekerja sendiri dan efektif.

3)      Kecemasan yang dialami

Kecemasan merupakan gambaran emosional yang dikaitkan dengan ketakutan. Dimana dalam proses belajar mengajar, individu memiliki derajat dan jenis kegelisahan yang berbeda.

4)      Motivasi belajar

Jika motivasi individu untuk berhasil lebih kuat daripada motivasi untuk tidak gagal, maka individu akan segera merinci kesulitan-kesulitan yang dihadapinya. Sebaliknya, jika motivasi individu untuk tidak gagal lebih kuat, individu akan mencari soal yang lebih mudah atau lebih sukar.

Setiap individu yang telah terpenuhi kebutuhan pokoknya pastilah sedikit banyak memiliki keinginan berprestasi. Namun yang membedakan antara individu yang memiliki keinginan berprestasi tinggi dan rendah adalah keinginan dirinnya untuk dapat menyelesaikan sesuatu dengan baik (Rola, 2006).

Sobur dalam Sahputra (2009) menyatakan bahwa ciri individu yang memiliki keinginan berprestasi tinggi adalah, berprestasi dihubungkan dengan seperangkat standar. Seperangkat standar tersebut dihubungkan dengan prestasi orang lain, prestasi diri sendiri yang lampau, serta tugas yang harus dilakukan. Memiliki tanggung jawab pribadi terhadap kegiatan-kegiatan yang dilakukan. Adanya kebutuhan untuk mendapatkan umpan balik atas pekerjaan yang dilakukan sehingga dapat diketahui dengan cepat hasil yang diperoleh dari kegiatannya, lebih baik atau lebih buruk. Menghindari tugas-tugas yang sulit atau terlalu mudah, akan tetapi memilih tugas yang tingkat kesulitannya sedang. Inovatif, yaitu dalam melakukan proses pekerjaan  dilakukan dengan cara yang berbeda, efisien dan lebih baik dari yang sebelumnya. Hal ini dilakukan agar individu mendapatkan cara yang lebih baik dan menguntungkan dalam pencapaian tujuan. Tidak menyukai keberhasilan yang bersifat kebetulan atau karena tindakan orang lain, dan ingin merasakan kesuksesan atau kegagalan disebabkan oleh tindakan individu itu sendiri.

Dengan demikian, individu yang memiliki keinginan untuk berprestasi tinggi adalah individu yang memiliki standar berprestasi, memiliki tanggung jawab pribadi atas apa yang dilakukannya, individu lebih suka bekerja pada situasi dimana dirinya mendapat umpan balik sehingga dapat diketahui seberapa baik tugas yang telah dilakukannya, individu tidak menyukai keberhasilan yang bersifat kebetulan atau karena tindakan orang lain, individu lebih suka bekerja pada tugas yang tingkat kesulitannya menengah dan realistis dalam pencapaian tujuannya, individu bersifat inovatif dimana dalam melakukan tugas selalu dengan cara yang berbeda, efisien, dan lebih baik dari yang sebelumnya. Dengan demikian, individu merasa lebih dapat menerima kegagalannya atas apa yang dilakukannya.

  1. kerangka berfikir

Secara teoritis ada hubungan antara organisasi kemahasiswaan dengan prestasi akademik. Dapat di jelaskan dengan sederhana mahasiswa yang mengikuti organisasi akan menyibukkan diri dengan organisasi yang di ikuti nya sehingga tidak menutup kemungkinan mengabaikan kuliahnya. Sedangkan mahasiswa yang tidak mengikuti organisasi tentu saja akan fokus dengan kuliahnya.

  1. Hipotesis

Berdasarkan pemaparan di atas maka dapat dirumuskan hipotesis bahwa ada pengaruh antara organisasi kemahasiswaan terhadap tingkat prestasi akademik mahasiswa sosiologi angkatan 2010 Universitas Sumatera Utara.

F.     Metode Penelitian

1.      Populasi

Populasi adalah keseluruhan elemen atau unsur yang akan kita teliti. ( Hamdani, 2008:79).

Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas: Objek/Subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang di tetapkan oleh peneliti untuk di pelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. (Sugiyono, 2010:80).

Dalam penelitian ini yang menjadi populasi adalah keseluruhan mahasiswa sosiologi angkatan 2010 Universitas Sumatera Utara yang berjumlah 87 mahasiswa terdiri dari 34 laki-laki dan 53 perempuan.

2.      Variabel Penelitian

Variable penelitian adalah segala sesuatu yang berbentuk apa saja yang di tempatkan oleh peneliti untuk di pelajari sehingga diperoleh informasi tentang hal tersebut, kemudian di tarik kesimpulannya. (Sugiyono,2010:38).

Dalam penelitian ini terdapat 2 (dua) variabel yaitu:

1)      Variabel Indevenden

Dalam penelitian ini variabel independen (variabel bebas) adalah kondisi organisasi kemahasiswaan yaitu:

  1. bentuk organisasi
  2. tamatan sekolah
  3. kekayaan orang tua
  4. tempat tinggal

2)      Variabel Devenden

Dalam penelitian ini yang menjadi variabel dependen (variabel terikat) adalah prestasi akademik mahasiswa yaitu nilai Indeks Prestasi Akademik (IPK) mahasiswa sosiologi angkatan 2010 Universitas Sumatera Utara.

G.    Instrumen Penelitian

Instrumen penelitian sering juga dinamakan alat pengumpulan data untuk memperoleh informasi penelitian. (hamdani, 2008:110).

Dalam penelitian ini ada dua instrumen yang digunakan yaitu:

1)      Instrumen yang digunakan untuk mengetahui bentuk organisasi yang di minati.

2)      Instrumen yang digunakan untuk mengukur prestasi akademik mahasiswa.

H.    Teknik Pengumpulan Data

Dalam penelitian ini metode pengumpulan data yang dipakai adalah metode angket. Angket digunakan untuk mengetahui bentuk organisasasi yang di  minati dan prestasi akademik mahasiswa.

I.       Teknik Analisis Data

Dalam penelitian ini teknik analisis data yang dipakai adalah statistik deskriptif untuk memberikan deskriptif atau gambaran data yang diperoleh. Untuk analisis data ini dilakukan pengumpulan data dengan menentukan skor responden  dari semua populasi. Selanjutnya menjumlahkan skor tersebut. Untuk menentukan skor (deskriptif persentase) digunakan rumus:

DP =  x 100%

Ket:

DP       :    Deskriptif persentase

N         :    Jumlah seluruh nilai yang diharapkan

n          :    Nilai yang diperoleh

Data yang diperoleh dari angket dianalisis melalui tahapan yaitu:

a.         Mengelompokkan data sesuai dengan jenisnya.

b.        Membuat tabulasi data.

c.         Data yang telah ditabulasikan, diolah dalam bentuk komputerisasi.

Arikunto dalam Maftukhah (2007), untuk mempermudah analisis data dari angket yang bertingkat maka perlu diketahui skor yang diperoleh responden dari hasil angket yang diisi. Untuk itu perlu ditentukan kriteria penskoran sebagai berikut:

a.         Untuk alternatif jawaban a diberi skor 4

b.        Untuk alternatif jawaban b diberi skor 3

c.         Untuk alternatif jawaban c diberi skor 2

d.        Untuk alternatif jawaban d diberi skor 1

Untuk menentukan kriteria penskoran adanya hubungan antara organisasi kemahasiswaan terhadap prestasi akademik mahasiswa digunakan perhitungan sebagai berikut:

a.         Persentase skor maksimal       =   ( 4 : 4 ) x 100%    =   100%

b.        Persentase skor minimal         =   ( 1 : 4 ) x 100%    =   25%

c.         Rentang                                  =   100% – 25%         =   75%

d.        Panjang kelas interval             =   75% : 4                =   18,75%

Metode yang digunakan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh organisasi kemahasiswaan terhadap prestasi akademik mahasiswa, data dianalisis dengan menggunakan teknik analisis regresi sederhana. Mencari persamaan garis regresi digunakan teknik analisis regresi linear satu variabel dengan persamaan sebagai berikut:

Y = a + bX

Ket:

Y    :    Variabel terikat (prestasi akademik)

a     :    Konstanta

b     :    koefisien regresi variabel X

X    :    Variabel bebas (kodisi dan bentuk organisasi)

 

J.      Jadwal Penelitian

No.

Kegiatan

Tahun 2012

Januari

Februari

Maret

April

1.

Persiapan

x

x

x

2.

Pengumpulan Data

x

X

X

x

3.

Penulisan Laporan Dan Konsultasi

x

x

x

x

4.

Penggandaan

x

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s